Suatu hari, ada seekor burung betina yang tengah terbang tinggi
bersama seekor burung jantan. Mereka adalah sepasang kekasih yang saling
mencintai. Hari, bulan, tahun mereka lalui bersama antara suka maupun
duka.
3 Tahun sudah berlalu, perjalanan mereka semakin indah saja, melintasi awan, menembus dimensi angkasa. Tiba-tiba ditengah perjalan, sang betina terjatuh, jatuh deras sekali menabrak permukaan bumi. Namun, entah mengapa sang jantan tidak memperdulikannya atau mungkin ia tidak menyadarinya. Sang jantan terbang begitu saja, tidak menoleh sedikitpun, ia terbang meninggalkan betina yang telah terkapar ditanah.
Sang betina terluka, menangis, merintih sendirian, sang kekasih yang selama ini berbagi suka telah melupakan dan meninggalkannya begitu saja. Hari demi hari dia jalani. Namun, dia begitu hidupnya begitu berbeda, sepi, hening, galau itulah yang ia rasakan. Hingga suatu ketika seekor ayam jantan melihatnya sedang merintih, sang ayam kasihan melihat sang burung, sayapnya patah dan butuh waktu yang lama untuk terbang kembali. Sang ayam mulai bertanya kepada sang burung mengapa ia bisa terjatuh, hingga akhirnya sang ayampun menaruh iba kepadanya dan memilih merawatnya hingga sang burung sembuh.
Hari demi hari mereka jalani, mengobati luka sang burung, menyuapkannya makan, menemani keheningan malamnya, dan membuatnya tersenyum, itulah rutinitas sang ayam. Namun, sang ayam begitu tulus merawatnya tanpa mengharap balasan apapun. Sang ayam menyadari kedekatan diantara mereka telah timbul, ada suatu perasaan yang berbeda yang ia rasakan. Sang burungpun menyadarinya, kedekatan itu menimbulkan perasaan yang berbeda.
Mereka semakin dekat, hingga suatu ketika sang ayam mengungkapkan hal tersebut. Sang ayam mengungkapkan kalau ia menyadari suatu rasa yang berbeda yaitu cinta. Walaupun mungkin mereka berbeda, namun cintalah yang membuat mereka sama. "Love is Blind", right?. Sang burung menyadari bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama, namun ia juga menyadari akan satu hal bahwa ia masih mencintai sang burung jantan, ia menyadari bahwa perjalanan kisah mereka telah panjang, 3 tahun bukanlah waktu yang singkat baginya. Sang burung hanya bisa berkata semoga rasa itu dapat terbalaskan suatu saat nanti. Sang ayampun dapat mengerti posisi sang burung betina sekarang, cerita dari sang burung betina mengenai kisah cintanya dengan sang burung jantan yang telah menyadarkannya. Namun, sang ayam tetap dapat tersenyum karena ia yakin bahwa mimpi itu akan terwujud, walaupun hatinya menangis merintih.
Menunggu, ya, itulah yang sang ayam lakukan, menunggu perasaannya terbalas. Hari, minggu, dan bulan ia lalui terkadang ia tersenyum dan terkadang ia menangis. Perasaan itu telah menyiksa batinnya, perih sekali untuk menunggu suatu hal abstrak. Hingga suatu ketika, sang ayampun merasa inilah saatnya sang burung untuk mengungkapkan yang sebenarnya, saat itu ialah disaat sang burung tlah pulih dari sakitnya. Namun, yang ia dapatkan sebuah guntur, sang burung menceritakan bahwa ia tak bisa menerima sang ayam, dengan satu alasan bahwa ia lebih mencintai sang burung jantan. Sang ayam sudah menyangka jawaban itu, ia tersenyum puas karena ia tlah berhasil mengungkapkan perasaan yang ia rasakan, itu menandakan bahwa ia seorang pemberani bukan pecundang. Ia juga tersenyum karena ia tahu, mencintai tak selamanya harus dicintai, right?. Sang burung juga mengungkapkan keinginannya untuk bisa kembali bertemu sang jantan. Sang ayam dengan tersenyum menerima keinginanny dan akan berusaha membantunya mencari. Itulah ketulusan yang sang ayam beri, tanpa mengharap apapun.
Mencari dan terus mencari itulah rutinitas sang burung untuk kembali menemukan cintanya yang telah lama hilang. Dan, pada akhirnya cinta itu berhasil ia temukan tak lepas dari bantuan sang ayam. Sang burungpun berpamitan dengan sang ayam, dan mengucapkan salam perpisahan. Sang ayampun melepasnya dengan senyuman. Sang ayam sadar bahwa Tuhan telah menetapkan kisah itu lama sebelum ia menjalaninya... THE END
3 Tahun sudah berlalu, perjalanan mereka semakin indah saja, melintasi awan, menembus dimensi angkasa. Tiba-tiba ditengah perjalan, sang betina terjatuh, jatuh deras sekali menabrak permukaan bumi. Namun, entah mengapa sang jantan tidak memperdulikannya atau mungkin ia tidak menyadarinya. Sang jantan terbang begitu saja, tidak menoleh sedikitpun, ia terbang meninggalkan betina yang telah terkapar ditanah.
Sang betina terluka, menangis, merintih sendirian, sang kekasih yang selama ini berbagi suka telah melupakan dan meninggalkannya begitu saja. Hari demi hari dia jalani. Namun, dia begitu hidupnya begitu berbeda, sepi, hening, galau itulah yang ia rasakan. Hingga suatu ketika seekor ayam jantan melihatnya sedang merintih, sang ayam kasihan melihat sang burung, sayapnya patah dan butuh waktu yang lama untuk terbang kembali. Sang ayam mulai bertanya kepada sang burung mengapa ia bisa terjatuh, hingga akhirnya sang ayampun menaruh iba kepadanya dan memilih merawatnya hingga sang burung sembuh.
Hari demi hari mereka jalani, mengobati luka sang burung, menyuapkannya makan, menemani keheningan malamnya, dan membuatnya tersenyum, itulah rutinitas sang ayam. Namun, sang ayam begitu tulus merawatnya tanpa mengharap balasan apapun. Sang ayam menyadari kedekatan diantara mereka telah timbul, ada suatu perasaan yang berbeda yang ia rasakan. Sang burungpun menyadarinya, kedekatan itu menimbulkan perasaan yang berbeda.
Mereka semakin dekat, hingga suatu ketika sang ayam mengungkapkan hal tersebut. Sang ayam mengungkapkan kalau ia menyadari suatu rasa yang berbeda yaitu cinta. Walaupun mungkin mereka berbeda, namun cintalah yang membuat mereka sama. "Love is Blind", right?. Sang burung menyadari bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama, namun ia juga menyadari akan satu hal bahwa ia masih mencintai sang burung jantan, ia menyadari bahwa perjalanan kisah mereka telah panjang, 3 tahun bukanlah waktu yang singkat baginya. Sang burung hanya bisa berkata semoga rasa itu dapat terbalaskan suatu saat nanti. Sang ayampun dapat mengerti posisi sang burung betina sekarang, cerita dari sang burung betina mengenai kisah cintanya dengan sang burung jantan yang telah menyadarkannya. Namun, sang ayam tetap dapat tersenyum karena ia yakin bahwa mimpi itu akan terwujud, walaupun hatinya menangis merintih.
Menunggu, ya, itulah yang sang ayam lakukan, menunggu perasaannya terbalas. Hari, minggu, dan bulan ia lalui terkadang ia tersenyum dan terkadang ia menangis. Perasaan itu telah menyiksa batinnya, perih sekali untuk menunggu suatu hal abstrak. Hingga suatu ketika, sang ayampun merasa inilah saatnya sang burung untuk mengungkapkan yang sebenarnya, saat itu ialah disaat sang burung tlah pulih dari sakitnya. Namun, yang ia dapatkan sebuah guntur, sang burung menceritakan bahwa ia tak bisa menerima sang ayam, dengan satu alasan bahwa ia lebih mencintai sang burung jantan. Sang ayam sudah menyangka jawaban itu, ia tersenyum puas karena ia tlah berhasil mengungkapkan perasaan yang ia rasakan, itu menandakan bahwa ia seorang pemberani bukan pecundang. Ia juga tersenyum karena ia tahu, mencintai tak selamanya harus dicintai, right?. Sang burung juga mengungkapkan keinginannya untuk bisa kembali bertemu sang jantan. Sang ayam dengan tersenyum menerima keinginanny dan akan berusaha membantunya mencari. Itulah ketulusan yang sang ayam beri, tanpa mengharap apapun.
Mencari dan terus mencari itulah rutinitas sang burung untuk kembali menemukan cintanya yang telah lama hilang. Dan, pada akhirnya cinta itu berhasil ia temukan tak lepas dari bantuan sang ayam. Sang burungpun berpamitan dengan sang ayam, dan mengucapkan salam perpisahan. Sang ayampun melepasnya dengan senyuman. Sang ayam sadar bahwa Tuhan telah menetapkan kisah itu lama sebelum ia menjalaninya... THE END
El-Hastha 24062012 14:08:42


0 komentar:
Posting Komentar