Sabtu, 07 April 2012

CERPENKU: Akhir Cerita Perjuanganku...

Akhir Cerita Perjuanganku... coretan pena: el-hastha






                Pagi yang cerah, ditemani embun yang berjatuhan, kicauan burung yang merdu bernyanyian, sang mentaripun bersinar terang menambah keindahan san penciptanya. Namaku Ari Firmansyah biasa aku disapa Ari. Aku hanyalah seorang anak dari janda miskin, ayahku telah pergi untuk selamanya karena sakit parah dan karena keterbatasan biaya, kamipun tak mampu mengobati penyakit yang dideritanya. Musibah itu masih sangat membekas di benakku. Kehidupanku serba kekurangan, ibu hanyalah seorang tukang cuci yang setiap pagi harus rela berkeliling kerumah tetangga, untuk mencuci baju mereka. Ibuku pun kini telah tua dan sering sakit-sakitan, tubuhnya telah bungkuk remuk dimakan usia. Sedangkan aku hanyalah murid kelas 6 sd yang hanya bisa melihat, membayangi, meratapi nasibku, dan bertanya, “kapan semua siksaan ini akan berakhir?.”
                Walaupun aku baru duduk di bangku kelas 6 sd, tapi aku telah mempunyai pekerjaan yang begitu melelahkan. Pekerjaanku hanyalah seorang pengamen jalanan, yang hanya mendapat beribu-ribu cacian dari orang-orang kaya, yang hanya direndahkan mereka, dan hanya menjadi lapik sepatu mereka. Namun, sedikit rezeki saja sudah sangat terasa cukup bagiku, bukan seperti orang-orang kaya yang selalu bisa tertawa gembira dan menggoyang-goyangkan kakinya serta dengan angkuhnya mereka menghambur-hamburkan uang yang bagi mereka tak berharga satuannya.
                Sekolahku memang hanyalah sebuah sekolah jelek dan kumuh, sekolah yang hanya dikhususkan bagi sampah masyarakat, sekolah yang hanya dikhususkan bagi orang-orang yang tidak mempunyai biaya untuk bersekolah. Kami tak pernah mengenal yang namanya baju seragam, sepatu, meja dan pustaka. Tapi, inilah hidupku! Kehidupan yang dipenuhi luka, duri dan keputus-asaan. Namun, kuyakin kehidupan ini bak pohon yang akn terus tumbuh, entah suatu saat pohon itu akan berakhir dengan subur dan berbuah atau malah pohon akan layu dan tua.
                Kehidupan yang begitu melelahkan ini terus kulalui, hingga kini aku tlah menduduki bangku sma. Namun, aku akan terus berjuang kuyakin suatu saat aku akan mengambil hasil kerja kerasku. Ujian akhir nasional kini tlah berada didepan mata, aku harap inilah saatnya aku memeras hasil keringatku dan tertawa diakhir semua usaha. Ah, itu semua hanyalah mimpi belaka yang tak mungkin terwujudkan, sungguh bodohnya diriku dapat berpikir bahwa aku akan sukses. Seharusnya aku sadar takdirku hanyalah menjadi seorang pengangguran yang akan menjadi pembantu para penghuni real-estate mewah dan setiap hanya akan bermimpi dan terus bermimpi hingga akhir nanti.
                Ujianpun dimulai, dengan niat dan tekat yang bulat aku memasuki kelas ruangan sma-ku yang tak kalah kumuhnya dengan sekolah sekolahku dulu. Namun,aku bangga karena sma itu penuh dengan guru yang berkualitas, guru yang penuh  dengan kata-kata motivasi dan satu hal yang selalu ku ingat. Ibu guruku pernah berkata, “sukses tidak mengenal siapakah dia, kaya kah dia, dan hebatkah dia. Namun sukses akan terlahir dalam diri seseorang yang terus mencoba dan mencoba.” Kini, aku telah mengikuti kata kata tersebut . Ku jalani semuanya dengan keyakinan penuh aku pasti bisa !
                Ujian berakhir, dan kini aku menunggu pengumuman hasil un-ku. Hari itu, di sekolahku di penuhi seluruh murid dengan berbagai macam ekspresi , ada yang menangis bangga, karena kerja kerasnya berbuah hasil yang manis, ada yang bersedih, karena usahanya berakhir dengan kepahitan, ada yang biasa saja, karena mereka tahu kalo mereka memang telah di takdirkan menjadi seorang yang tak berguna, sama sepertiku. Lalu, aku bergegas menuju papan pengumuman agar aku mengetahui apakah hasil yang akan ku dapatkan.ku lewati desak-desakan siswa yang juga ingin melihat hasil kerja kerasnya. Namun sebelum aku berhasil melihat hasil ujianku, tiba-tiba aku di datangi oleh seorang guru yang raut wajahnya sangat kukenal. Ya, dialah walikelasku. Lalu diapun berkata, “ ari kamu di minta menjumpai kepala sekolah sekarang juga, penting ! “ aku pun termenung memikirkan kata kata wali kelas ku tersebut. Apakah hasil ujianku begitu buruk, sehingga aku di panggil menghadat kepala sekolah. Dengan langkah yang sedikit gemetar aku bergegas menuju kantor kepala sekolah .
                Di depan ruang kepala sekolah, lagi lagi aku termenung memikirkan kata kata walikelas ku tadi namun, kuberanikan diri untuk menemui kepala sekolah. Ku ketuk pintu ruang itu, tiba tiba terdengar suara “silahkan masuk!.”Aku pun segera memasuki ruangan tersebut. Belum sempat aku menduduki bangku yang tepat berada di depan meja kepala sekolah , beliau bertanya,”kamu ari ya? Silahkan duduk!” Aku pun menjawab, “benar, terima kasih pak. Mengapa bapak memanggil saya?” Beliau pun menjawab, “silahkan duduk dulu, jangan terburu-buru, ada hal penting yang ingin bapak sampaikan.” Hatiku dipenuhi rasa bingung dengan apa yang beliau ucapkan, apakah yang sedang terjadi? Apakah benar dugaanku bahwa hasil ujianku begitu buruk dan tidak memuaskan. Namun ku buang pikiran itu jauh-jauh, aku berharap ini adalah suatu kabar baik bagiku. Aku pun langsung duduk, dan bertanya, “sebenarnya apakah yang sedang terjadi, pak?” Beliaupun menjawab dengan nada yang mulai mengecil, “ini adalah sebuah kabar gembira bagi kamu dan kami seluruh staff di sma yang kumuh ini. Pemerintah menyatakan, bahwa kamu lulus dengan nilai un tertinggi se-provinsi, dengan demikian kamu berhak untuk memilih perguruan tinggi mana yang ingin kamu masuki dan biaya keseluruhannya mulai dari biaya sekolah, makan, sampai tempat tinggalpun dibiayai pemerintah.” Aku pun terdiam seribu bahasa, rasanya ini hanyalah sebuah mimpi yang tidak pernah terpikirkan olehku, air matapun menetes deras di pipiku, ternyata semua kerja kerasku telah terbayar dengan sebuah hasil yang begitu manis. Kini seorang pengamen jalanan dapat menduduki perguruan tinggi.  Segera kusalami tangan kepala sekolahku, ku ucapkan beribu-ribu terima kasih kepadanya. Bergegas ku tinggalkan ruangan itu dengan 1 tujuan yaitu, menyampaikan kabar gembira ini kepada ibu-ku yang sedang menunggu kabar dariku.
                Kuketuk pintu rumahku dengan keras, agar ibuku bergegas membuka pintu untukku dan akupun bisa semakin cepat menyampaikan kabar gembira ini pada-nya, kepada seorang yang sangat aku sayangi didalam hidupku. Lalu, pintu rumahku pun terbuka, segera ku peluk erat tubuh ibuku. Dengan wajah penuh keanehan, ibukupun bertanya, “apa yang terjadi nak?”. Tak terasa air mata telah membasahi pipiku, tak sanggup rasanya lidah ini untuk bergerak mengucapkannya. Namun, dengan terbata-bata aku memberitahukannya kepada ibuku. “aku mendapatkan nilai un tertinggi, dan aku berhak memilih perguruan tinggi yang ingin aku masuki.” Tetesan air mata ibuku pun ikut menyertainya, raut wajahnya mencerminkan beribu keraguan, rasanya tak mungkin kalau anaknya yang dulu hanyalah seorang pengamen yang selalu dicaci-maki kini akan segera menjadi seorang mahasiswa di perguruan tinggi setara dengan anak-anak konglomerat yang tinggal di real-estate mewah. Senyum dan tangis bahagiapun mewarnai siang itu, siang dimana seorang pengamen jalan akan segera menjadi seorang mahasiswa di perguruan tertinggi yang akan disetarakan layaknya orang-orang kaya.

0 komentar:

Posting Komentar

El-Hastha. Diberdayakan oleh Blogger.

© Coretan Pena-Ku, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena