Akhir Cerita Perjuanganku... coretan pena: el-hastha
Pagi yang cerah, ditemani embun
yang berjatuhan, kicauan burung yang merdu bernyanyian, sang mentaripun
bersinar terang menambah keindahan san penciptanya. Namaku Ari Firmansyah biasa
aku disapa Ari. Aku hanyalah seorang anak dari janda miskin, ayahku telah pergi
untuk selamanya karena sakit parah dan karena keterbatasan biaya, kamipun tak
mampu mengobati penyakit yang dideritanya. Musibah itu masih sangat membekas di
benakku. Kehidupanku serba kekurangan, ibu hanyalah seorang tukang cuci yang
setiap pagi harus rela berkeliling kerumah tetangga, untuk mencuci baju mereka.
Ibuku pun kini telah tua dan sering sakit-sakitan, tubuhnya telah bungkuk remuk
dimakan usia. Sedangkan aku hanyalah murid kelas 6 sd yang hanya bisa melihat,
membayangi, meratapi nasibku, dan bertanya, “kapan semua siksaan ini akan
berakhir?.”
Walaupun aku baru duduk di
bangku kelas 6 sd, tapi aku telah mempunyai pekerjaan yang begitu melelahkan.
Pekerjaanku hanyalah seorang pengamen jalanan, yang hanya mendapat beribu-ribu
cacian dari orang-orang kaya, yang hanya direndahkan mereka, dan hanya menjadi
lapik sepatu mereka. Namun, sedikit rezeki saja sudah sangat terasa cukup
bagiku, bukan seperti orang-orang kaya yang selalu bisa tertawa gembira dan
menggoyang-goyangkan kakinya serta dengan angkuhnya mereka menghambur-hamburkan
uang yang bagi mereka tak berharga satuannya.
Sekolahku memang hanyalah sebuah
sekolah jelek dan kumuh, sekolah yang hanya dikhususkan bagi sampah masyarakat,
sekolah yang hanya dikhususkan bagi orang-orang yang tidak mempunyai biaya
untuk bersekolah. Kami tak pernah mengenal yang namanya baju seragam, sepatu,
meja dan pustaka. Tapi, inilah hidupku! Kehidupan yang dipenuhi luka, duri dan
keputus-asaan. Namun, kuyakin kehidupan ini bak pohon yang akn terus tumbuh,
entah suatu saat pohon itu akan berakhir dengan subur dan berbuah atau malah
pohon akan layu dan tua.
Kehidupan yang begitu melelahkan
ini terus kulalui, hingga kini aku tlah menduduki bangku sma. Namun, aku akan
terus berjuang kuyakin suatu saat aku akan mengambil hasil kerja kerasku. Ujian
akhir nasional kini tlah berada didepan mata, aku harap inilah saatnya aku
memeras hasil keringatku dan tertawa diakhir semua usaha. Ah, itu semua
hanyalah mimpi belaka yang tak mungkin terwujudkan, sungguh bodohnya diriku
dapat berpikir bahwa aku akan sukses. Seharusnya aku sadar takdirku hanyalah
menjadi seorang pengangguran yang akan menjadi pembantu para penghuni
real-estate mewah dan setiap hanya akan bermimpi dan terus bermimpi hingga
akhir nanti.
Ujianpun dimulai, dengan niat
dan tekat yang bulat aku memasuki kelas ruangan sma-ku yang tak kalah kumuhnya
dengan sekolah sekolahku dulu. Namun,aku bangga karena sma itu penuh dengan
guru yang berkualitas, guru yang penuh
dengan kata-kata motivasi dan satu hal yang selalu ku ingat. Ibu guruku
pernah berkata, “sukses tidak mengenal siapakah dia, kaya kah dia, dan hebatkah
dia. Namun sukses akan terlahir dalam diri seseorang yang terus mencoba dan
mencoba.” Kini, aku telah mengikuti kata kata tersebut . Ku jalani semuanya
dengan keyakinan penuh aku pasti bisa !
Ujian berakhir, dan kini aku
menunggu pengumuman hasil un-ku. Hari itu, di sekolahku di penuhi seluruh murid
dengan berbagai macam ekspresi , ada yang menangis bangga, karena kerja
kerasnya berbuah hasil yang manis, ada yang bersedih, karena usahanya berakhir
dengan kepahitan, ada yang biasa saja, karena mereka tahu kalo mereka memang
telah di takdirkan menjadi seorang yang tak berguna, sama sepertiku. Lalu, aku
bergegas menuju papan pengumuman agar aku mengetahui apakah hasil yang akan ku
dapatkan.ku lewati desak-desakan siswa yang juga ingin melihat hasil kerja
kerasnya. Namun sebelum aku berhasil melihat hasil ujianku, tiba-tiba aku di
datangi oleh seorang guru yang raut wajahnya sangat kukenal. Ya, dialah
walikelasku. Lalu diapun berkata, “ ari kamu di minta menjumpai kepala sekolah
sekarang juga, penting ! “ aku pun termenung memikirkan kata kata wali kelas ku
tersebut. Apakah hasil ujianku begitu buruk, sehingga aku di panggil menghadat
kepala sekolah. Dengan langkah yang sedikit gemetar aku bergegas menuju kantor
kepala sekolah .
Di depan ruang kepala sekolah,
lagi lagi aku termenung memikirkan kata kata walikelas ku tadi namun,
kuberanikan diri untuk menemui kepala sekolah. Ku ketuk pintu ruang itu, tiba
tiba terdengar suara “silahkan masuk!.”Aku pun segera memasuki ruangan
tersebut. Belum sempat aku menduduki bangku yang tepat berada di depan meja
kepala sekolah , beliau bertanya,”kamu ari ya? Silahkan duduk!” Aku pun
menjawab, “benar, terima kasih pak. Mengapa bapak memanggil saya?” Beliau pun
menjawab, “silahkan duduk dulu, jangan terburu-buru, ada hal penting yang ingin
bapak sampaikan.” Hatiku dipenuhi rasa bingung dengan apa yang beliau ucapkan,
apakah yang sedang terjadi? Apakah benar dugaanku bahwa hasil ujianku begitu
buruk dan tidak memuaskan. Namun ku buang pikiran itu jauh-jauh, aku berharap
ini adalah suatu kabar baik bagiku. Aku pun langsung duduk, dan bertanya,
“sebenarnya apakah yang sedang terjadi, pak?” Beliaupun menjawab dengan nada
yang mulai mengecil, “ini adalah sebuah kabar gembira bagi kamu dan kami
seluruh staff di sma yang kumuh ini. Pemerintah menyatakan, bahwa kamu lulus
dengan nilai un tertinggi se-provinsi, dengan demikian kamu berhak untuk
memilih perguruan tinggi mana yang ingin kamu masuki dan biaya keseluruhannya
mulai dari biaya sekolah, makan, sampai tempat tinggalpun dibiayai pemerintah.”
Aku pun terdiam seribu bahasa, rasanya ini hanyalah sebuah mimpi yang tidak
pernah terpikirkan olehku, air matapun menetes deras di pipiku, ternyata semua
kerja kerasku telah terbayar dengan sebuah hasil yang begitu manis. Kini
seorang pengamen jalanan dapat menduduki perguruan tinggi. Segera kusalami tangan kepala sekolahku, ku
ucapkan beribu-ribu terima kasih kepadanya. Bergegas ku tinggalkan ruangan itu
dengan 1 tujuan yaitu, menyampaikan kabar gembira ini kepada ibu-ku yang sedang
menunggu kabar dariku.
Kuketuk pintu rumahku dengan
keras, agar ibuku bergegas membuka pintu untukku dan akupun bisa semakin cepat
menyampaikan kabar gembira ini pada-nya, kepada seorang yang sangat aku sayangi
didalam hidupku. Lalu, pintu rumahku pun terbuka, segera ku peluk erat tubuh
ibuku. Dengan wajah penuh keanehan, ibukupun bertanya, “apa yang terjadi nak?”.
Tak terasa air mata telah membasahi pipiku, tak sanggup rasanya lidah ini untuk
bergerak mengucapkannya. Namun, dengan terbata-bata aku memberitahukannya
kepada ibuku. “aku mendapatkan nilai un tertinggi, dan aku berhak memilih
perguruan tinggi yang ingin aku masuki.” Tetesan air mata ibuku pun ikut
menyertainya, raut wajahnya mencerminkan beribu keraguan, rasanya tak mungkin
kalau anaknya yang dulu hanyalah seorang pengamen yang selalu dicaci-maki kini
akan segera menjadi seorang mahasiswa di perguruan tinggi setara dengan
anak-anak konglomerat yang tinggal di real-estate mewah. Senyum dan tangis
bahagiapun mewarnai siang itu, siang dimana seorang pengamen jalan akan segera
menjadi seorang mahasiswa di perguruan tertinggi yang akan disetarakan layaknya
orang-orang kaya.


0 komentar:
Posting Komentar